3.8.09

EMANSIPASI PEREMPUAN DALAM ISLAM MENURUT PANDANGAN QA SIM AMI N BEIK PASHA


PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Diskursus tentang emansipasi perempuan memang seakan suatu yang sudah klise (usang) diperbincangkan, karena memang diskursus tentang hal tersebut muncul sudah lama. Namun demikian, keusangan–jika dianggap usang- diskursus tersebut bukan berarti tidak layak untuk dikaji dan mendapatkan porsi tersendiri untuk dibahas, karena diskursus tersebut sudah bermetamorfosa menjadi semacam gerakan yang sudah mengideologi dan mengkristal menjadi mind set.

Oleh karena itu, maka meskipun klise akan terus menjadi aktual seiring dengan perkembangan model pemikiran (mode of thought) para pejuang dan penegak panji-panji emansipasi perempuan tersebut.

Feminisme, salah satu gerakan yang mengusung semangat emansipasi perempuan merupakan contoh konkret akan terjadinya ideologisasi yang membentuk aliran akan hal tersebut.

Tarik ulur tentang urgensi gerakan perjuangan emansipasi perempuan terjadi sejak diskursus (wacana) tersebut diusung dan disebarluaskan, sehingga membentuk dua kutub yang saling berhadapan yang selanjutnya membentuk blunder dan menjadi sumber resistensi gerakan perjuangan emansipasi perempuan (feminisme) itu sendiri. Dalam kaitan dengan hal tersebut, mansour faqih memberikan tiga catatan yang merupakan sumber resistensi tersebut. Pertama, resistensi yang berasal dari kaum perempuan sendiri, pengalaman keberhasilan feminisme justru direduksi dan dikurangi oleh kaum perempuan yang sudah merasa puas dengan perannya sebagai ibu rumah tangga dan takut atas perubahan status perempuan. Ada komentar di berbagai media massa, bahwa feminisme adalah gagasan barat yang dipaksakan. Penderitaan kaum perempuan yang diakibatkan oleh sistem dominasi dan eksploitasi patriarkhi, namun hal itu justru dituduhkan pada gerakan feminisme. Kedua, tantangan yang berasal dari developmentalisme dan implikasinya yang telah menjadi agama
baru hampir di semua negara dunia ketiga. Pembangunan melestarikan ketidakadilan gender bahkan dianggap melestarikan wacana-wacana baru yang membuat ketertindasan perempuan semakin kronis. Ketiga, tantangan dari paham keagamaan yang patriarkhis merupakan resistensi terhadap feminisme. Hampir semua manusia melanggengkan ketidakadilan gender yang berasal dari watak agama itu sendiri atau berasal dari interpretasi dan pemikiran keagamaan yang dipengaruhi tradisi dan budaya patriarkhal.

Selengkapnya...

0 komentar:

Poskan Komentar

PERPUS. SKRIPSI TESIS is wearing Nur | To Blogger by An at Student | Campus and Comments (RSS).